Friday, September 7, 2012

Sifat-sifat Jelek Bagaikan Virus Yang Akan Menyerang Kesehatan Hati

Sifat-sifat Jelek Bagaikan Virus Yang Akan Menyerang Kesehatan Hati

Seorang Sufi seharusnya betul-betul menguasai ilmu syariat agama. Makanya sebelum seseorang memasuki dunia Sufi ia harus belajar dan mendalami ilmu-ilmu Agama terlebih dahulu. Hal tersebut adalah merupakan bekal dalam pencarian nya akan hakikat dan rahasia dari semua perintah-perintah Allah yang tertuang dalam syariat Agama. Pengetahuan Sufi terhadap ilmu-ilmu syariat adalah seumpama pisau yang akan digunakan untuk menemukan rahasia apa dibalik syariat agama yang nampak secara formalitas itu.

Setelah seorang sufi di awal perjalanannya telah mengamalkan segala syariat agama dengan berusaha menggali rahasia-rahasia yang tersembunyi di dalamnya, langkah selanjutnya dalam upaya penyucian hati, menurut Al-Ghazali adalah dengan menghilangkan akhlak-akhlak jelek yang ada dalam dirinya lalu menggantinya dengan akhlak yang terpuji.

Bagi Al-Ghazali dan dalam tinjauan ilmu tasawuf secara umum, sifat-sifat jelek adalah seumpama sebuah virus yang akan menyerang kesehatan hati. Sedangkan obat penangkalnya adalah akhlak atau sifat terpuji. Dalam diri manusia sebenarnya dua unsur tersebut sudah melekat pada dirinya. Dengan kata lain,unsur virus penyakit hati itu sudah ada dalam diri manusia tetapi pada sisi lain obat penangkalnya pun sudah tersedia juga dalam dirinya. Mana antara keduanya yang akan berkembang, penyakitnya atau penangkal nya adalah tergantung sejauh mana seorang manusia berupaya untuk kesembuhan nya, atau membiarkan penyakit-penyakit tersebut bersarang hingga sampai pada tahap kronis.

Sakitnya hati memang tak separah penyakit anggota tubuh lain yang nampak secara dhahir. Pada penyakit dhahir (fisik) puncak dari dampak yang ditimbulkannya adalah matinya tubuh atau jasad tetapi dampak akhir dari sakitnya sebuah hati manusia akan mengakibatkan matinya fungsi hati itu sendiri. Padahal hati dalam tubuh manusia adalah pemimpin dari anggota tubuh . Hati adalah pengendali. Ia adalah pemegang kekuasaan tertinggi, satu-satunya penentu dalam putaran roda perilaku manusia. Apa yang akan terjadi pada diri manusia jika hatinya sudah mati?

Satu-satunya penyebab dari kematian hati manusia adalah serangan penyakit-penyakit hati itu sendiri. Banyak macam dan jenis penyakit-penyakit hati yang kesemuanya adalah dalam kategori sifat atau akhlak jahat manusia. Parahnya lagi ternyata penyakit-penyakit tersebut tidak berada di luar tubuh manusia tetapi sudah ada dan bercokol dalam diri manusia. Sisi bahaya yang akan membahayakan kelangsungan hidup manusia. Sisi bahaya yang ditimbulkan dari kematian hati adalah mereka tidak lagi dikuasai dan di komando oleh hati nurani manusianya . Sifat-sifat kemanusiaan nya akan hilang terkubur bersama kematian hatinya. Manusia tidak akan bisa menerima cahaya Zdat Tuhan sebab cermin hatinya telah hangus, sehingga di dalam dirinya tidak sedikitpun terlintas wajah Tuhan. Akibat selanjutnya adalah manusia tidak akan bisa menerima kebenaran, baik yang datang dari langit maupun yang datang dai bumi. Persamaannya sirna dan jiwa kemuliaannya musnah. Dalam diri manusia sudah tidak ada sifat-sifat baik. Yang ada dan tersisa adalah sifat -sifat jahat yang telah dikuasai oleh hawa nafsunya. Manusia-manusia seperti itu akan berada jauh dan sangat jauh dari Allah, bahkan Allah pun membelakangi nya. Jika manusia sudah seperti itu sisi terdekat bagi mereka adalah bukan Tuhan melainkan setan. Wajah-wajah mereka memang berkepala manusia, tetapi jiwanya adalah iblis. Nama-nama mereka memang dalam sebutan manusia, tetapi kelakuan mereka adalah binatang, dan bahkan lebih hina dari hewan. Mereka memang punya hati, tetapi tak ada perasaan kemanusiaan di dalamnya. Juga mereka punya mata, tetapi tak punya penglihatan di dalamnya. Mereka pun punya telinga, tetapi tak ada pendengaran nya sama sekali di dalamnya. Allah menyumpah mereka dengan neraka Jahannam sebagaimana penegasan-Nya sendiri dalam Al-Qur'an :

“ Dan sesungguhnya telah Aku sediakan mereka neraka Jahannam bagi kebanyakan Jin dan Manusia, (karena) mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan nya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka punya mata (tetapi) tidak dipergunakan nya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan nya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al A'raaf:179)

Ada 9 kategori sifat jelek manusia yang oleh Al-Ghazali disebut sebagai penyakit hati, yaitu :
1. makan minum berlebihan
2. berbicara tiada guna
3. marah
4. hasut
5. bakhil
6. hubbu al dunya (cinta harta, pangkat dan kedudukan)
7. sombong
8. ujub
9. riya'

Kesembilan sifat atau laku inilah yang mempunyai tingkat bahaya yang begitu besar dalam mematikan hati manusia. Bagaimanakah proses atau cara kerja penyakit-penyakit tersebut dalam membunuh hati?

Pertama, makan dan minum secara berlebihan, kalau dalam terminologi Al-Qur'an disebut sebagai israf. Banyak ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang melarang tindakan israf ini, bahkan Allah secara tegas menyatakan bahwa Dia sangat tidak suka dengan orang yang berlebih-lebihan (musrifin). Tindakan israf selain mempunyai dampak buruk bagi pelakunya, juga merupakan tindakan yang tidak ada gunanya sama sekali. Dalam kaitannya dengan masalah materi, misalnya israf bisa berupa tindakan penghambur-hamburan yang dalam istilah Al-Qur'an disebut sebagai mubadzir. Sementara dalam keterangan lain disebutkan bahwa para pelaku mubazir adalah sekutunya setan.

Suatu tindakan israf atau mubadzir dalam kaitannya dengan soal makan minum adalah wujud mengkonsumsi makanan secara berlebihan melebihi kapasitas kemampuan atau kewajaran isi perut. Tindakan seperti ini tentu akan membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia baik ditinjau dari segi kesehatan maupun psikologi. Dalam hal ini Al-Ghazali mengatakan:
“Ketahuilah bahwa sumber segala penyakit adalah syahwat perut. Kemudi dari syahwat perut ini muncul syahwat kemaluan. Syahwat perut itulah yang menimpa Adam a.s. Sehingga ia dikeluarkan dari syurga. Syahwat perut pula yang menyebabkan seseorang mencintai dan mencari keduniaan”.


No comments:

Post a Comment