Wednesday, September 5, 2012
Segumpal Darah Yang Menentukan, Itulah Hati
Anggapan keliru jika ada yang menganggap antara dunia dan Tuhan adalah dua hal yang selalu bermusuhan dan tidak bisa disatukan. Hingga seseorang harus memilih salah satu dari keduanya. Jika dunia yang dipilih maka ia akan terlempar jauh dari Tuhan. Sebaliknya jika Tuhan yang dipilih konsekuensi logis nya ia akan terlempar jauh dari dunia. Dan mengenai sikap maupun perilaku mereka yang aneh, menurut mereka itu bukankah sesuatu bentuk keanehan tetapi sebagai bentuk latihan mental (biasanya disebut riyadhah) yang memang harus dilalui untuk menuju kedekatan dengan Nya. Tetapi, apakah memang benar bahwa jalan untuk menuju kepada Allah itu harus dilalui dengan jalan seperti itu?? (lihat posting sebelumnya)
Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita lihat lagi satu kasus yang sama seperti posting sebelumnya tetapi dengan motif yang berbeda. Kisah ini terjadi pada saat zaman Nabi.
Suatu saat ada salah seorang sahabat Nabi yang lewat di sebuah lembah yang bermata air jernih dan segar. Lembah itu sangat mempesona sehingga seorang sahabat itu berfikir untuk mengasingkan diri dari masyarakat dan menghabiskan waktu untuk beribadah dilembah itu. Dalam penafsiran kita mungkin ia akan masuk dalam dunia tasawuf dan ingin menjadi seorang sufi. Sehingga Ia memilih tempat yang sepi yang jauh dari keramaian itu untuk menghindar dari komunitas manusia, dengan niatnya itu lantas sahabat tersebut lantas mengadukannya kepada Rasulullah. Lalu apa jawaban dari Rasulullah mengenai maksudnya tersebut? Rasulullah bersabda :
“Jangan engkau lakukan itu, jangan pula siapa pun diantara kamu, karena kesabaran seseorang di sebagian negeri Islam akan lebih baik daripada seseorang dari kamu selama puluhan tahun ”.
Dalam riwayat yang lain versi jawaban Rasul kepada sahabat tersebut sebagai berikut:
“Jangan engkau lakukan itu, kedudukan engkau di jalan Allah lebih utama dari shalat yang engkau lakukan di rumahmu selama tujuh puluh tahun, tidakkah engkau ingin Allah mengampuni dosamu dan memasukkan kamu ke surga? Maka berjuanglah di jalan Alah”(HR: At Turmuzi).
Ternyata Nabi melarang sahabat tersebut untuk mengasingkan diri walau dengan alasan ibadah. Nabi menganggap salah terhadap orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah dengan pengasingan diri dan meninggalkan kenyataan hidup. Ada jalan yang lebih baik dan lebih utama dari pada mengasingkan diri, yaitu dengan tetap bersabar dalam perjuangan dalam menegakkan Agama Allah di tengah-tengah masyarakat. Inilah jalan yang lebih dekat menuju Allah. Dengan kata lain inilah jalan yang tepat untuk menjadi seorang Sufi.
Ada banyak kasus dengan bermacam motif yang melatarbelakangi seseorang untuk memasuki dunia tasawuf dengan jalan yang salah. Dan kasus serupa pun pasti akan muncul di kemudian hari.
Menurut Ihsanuddin dalam ma'rifat, jalan menuju Tuhan itu tidak ter hingga jumlahnya. Namun dari sekian banyak jalan tersebut mempunyai dasar yang sama, yaitu semua bersifat personal (individuality). Artinya setiap setiap orang harus mencari jalan yang sesuai dengan bakat serta maqam-maqam yang dapat dicapai oleh jiwanya. Jalan yang ditempuh seseorang belum tentu sesuai dan berhasil jika diterapkan kepada orang lain. Karena suasana hati (maqam)nya belum tentu sama antara satu orang dengan orang lain.
Dalam dunia sufi, sebuah jalan yang harus dilalui seseorang untuk sampai kepada Allah lazim disebut tariqah. Tetapi buka jalan sembarangan yang dimaksud di sini, tetapi suatu jalan atau tariqah yang telah disahkan sendiri oleh kalangan Ulama Sufi yang disebut dengan tariqah al mu'tabarah (jalan tariqah yang sah). Di dalam tariqah ini ulama Sufi telah menyusun teori-teori jalan bagaimana seorang Sufi harus mulai melakukan suatu amalan dan mengakhirinya. Jelasnya, dalam tariqah akan diketahui bagaimana start dan finis jalan bagi seorang Sufi. Walaupun ada saja perbedaan pendapat antara kalangan Ulama Sufi dalam masalah teori-teori tasawuf yang harus diterapkan, namun setidaknya akan dapat diketahui apakah jalan yang harus ditempuh seorang sufi itu sesuai dengan beberapa teori yang dibangun oleh kalangan Sufi sendiri. Dan untuk memudahkan pembahasan dan juga untuk keabsahan analisa penulis akan banyak mengambil rujukan dari pemikir seorang tokoh yang sangat kharismatik yaitu imam Al-Ghazali.
Sebagai jalan yang harus ditempuh oleh seorang Sufi tariqah mempunyai sarat utama yang harus dilakukan yaitu penyucian hati dari segala sesuatu yang selain Allah. Imam Al-Ghazali dalam Al Munqidz Min al Dlalal menyatakan hal sebagai berikut :
“Tariqah itu awal, syarat-syaratnya adalah penyucian hati secara keseluruhan dari apa saja selain Allah. Dan kunci pembuka nya laksanakan takbir awal shalat adalah menenggelamkan hati dalam dzikir kepada Allah dan berakhir dengan fana' di dalam Allah”.
Apa yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali dengan penyucian hati adalah baru berupa satu syarat untuk memasuki jalan tariqah. Jadi, penyucian hati harus diupayakan terlebih dahulu sebelum seorang Sufi itu memulai menampakan kakinya di jalan tariqah para Sufi.
Dalam kajian ilmu tasawuf secara umum, penyucian merupakan suatu syarat mutlak dan merupakan harapan utama yang harus diprioritaskan. Hal tersebut dikarenakan hati merupakan hakikat dari inti dari manusia sendiri. Hal terpenting yang ada dalam diri manusia adalah unsur hati, sebab ia adalah unsur komando utama yang akan menggerakkan seluruh aktivitas anggota badan ke arah mana suatu tindakan itu diarahkan. Hati adalah penentu bagi baik atau tidaknya perilaku seorang manusia, sebab hati sesungguhnya mempunyai kekuatan besar untuk itu. Nabi Sendiri dalam salah satu sabdanya menyatakan hal itu sebagai berikut :
“Ingatlah bahwa di dalam diri manusia itu ada segumpal darah. Jika ia baik maka akan baik seluruh anggota tubuh, tetapi jika ia jelek maka akan jelek pulalah seluruh anggota tubuh. Ingatlah bahwa segumpal darah itu adalah hati”.
Labels:
Sufi
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment