Tuesday, September 4, 2012

Contoh Kasus Penyimpangan Jalan Dari Tujuan Semula


Seorang sufi bukan sosok yang menyeramkan. Ia tidak harus memiliki karakter wajah yang khas, berambut dan berjenggot panjang. Ia juga tidak harus berpenampilan berpakaian lusuh, kumal dan compang caping. Juga tidak berperilaku nyleneh. Yang membuat orang lain bingung dan tidak mengerti. Bahkan seoran Sufi tidak wajib sakti, mempunyai kekuatan supranatural dan kemampian magic yang memuat orang terheran.

Sufi, sebutan ini tidak diberikan karena adanya karakter penampilan. Predikat ini diberikan sebab adanya tinkat keimanan dan ketakwaan. Allah mengangkat para Sufi sebagai wali(kekasih) bukan karena penampilan mereka tetapi lantaran kualitas keimanannya yang melebihi dari manusia-manusia biasa. Jadi, tidak ada simbol-simbol unik dalam dunia Sufi kecuali mereka adalah manusia dengan tingkat keimanan yang sempurna. Menurut Ibnu Taymiyah, sesungguhnya wali-wali Allah ada didalam segenap lapisan masyarakat umat Muhammad SAW. Selama mereka tidak termasuk ahli bid'ah dari orang-orang yang bejad moral. Wali Allah ada di dalam golongan ahli Qur'an, ahli ilmu, ahli jihat, pedagang, tukang, pegawai, dan petani.

Itulah Sufi(Wali) sebuah gelar yang diberikan Allah kepada para hambanya yang shalih. Hanya Allah semata sebenarnya yang berhak memberikan panggilan itu. Tidak ada kriteria tertentu untuk mendapat julukan mulia ini selain persyaratan iman dan takwa. Dengan demikian sebenarnya siapapun bisa diangkat Allah sebagai kekasihnya. Dengan kata lain, siapapun sebenarnya bisa menjadi Sufi selagi ia berjalan diatas garis-garis yang teah ditentukan oleh Allah sendiri dalam suatu syariat yang telah dibawa oleh Nabi Muhmmad.

Sebelum diuraikan tentang jalan (tariqah) yang harus dilalui oleh seseorang untuk bisa mendapat pengangkatan waliyullah, terlebih dahulu akan diuraikan tentang sebuah jalan yang salah yang sering kali dilalui oleh para pemula yang kurang paham akan ajaran sufi yang sesungguhnya. Ada dua kasus yang ingin kami sampaikan terlebih dahulu dalam masalah ini. Pertama, ada seorang lelaki yang akibat himpitan ekonomi, ia memutuskan untuk masuk dalam dunia tasawuf dan menjadi seorang Sufi. Sebelumnya tidak ada yang bisa ia kerjakan kecuali hanya menganggur. Ia selalu berusaha untuk mencari pekerjaan, tetapi ternyata Tuhan masih menentukan lain. Mungkin seorang laki-laki ini melum menyadari bahw Tuhan sedang menguji kesabarannya. Ia selalu berfikir dan berfikir tetapi selalu berakir dengan kebingugan dan keputusasaan. Hingga diakir semua itu ia berkesimpulan bahwa, semakin ia memikirkan masalah dunia, maka semakin itu pula ia mengalami kebingungan yang luar biasa. Hatinya semakin gila dan batok kepalanya serasa mau pecah. Lantas apa yang bisa ia kerjakan dengan sisa harapanya yang perlahan mulai hancur?

Sungguh , satu keputusan yang luar biasa, seorang lelaki itu serasa mendapat petunjuk dari Tuhan. Serasa ada yang membimbig dan menuntunnya menuju jalan yang penuh dengan kerohanian. Ia memutuskan untk masuk dalam dunia tasawuf. Ia ingin menjadi seorang Sufi yang bersih dari kebingungan-kebingungan dunia. Ia igin menjadi Wali yang bebas dari penderitaan-penderitaan ekonomi. Ia pergi jauh entah kemana. Ia bertekat untuk membelakangi dunia yang selama ini membuatnya semakin susah dan menjauhkan dirinya dengan Allah. Ia tinggalkan begitu saja keluarga tanpa adanya beban pikiran bagamana dengan nasip anak dan istrinyananti, sebab dalam pikiran lelaki itu anak, istri dan harta dunia adalah satu fitnah yang seringkali menjadikan manusia semakin jauh dari Tuhannya. Ia pergi meninggalkan kampung halamannya dan menjauhkan diri dari hingar bingar komunitas manusia yang menurutnya semakin rusak. Is pergi dari wujud dunia untuk bertemu dengan Allah dengan meninggalkan bermacam pertanyaan-pertanyaan dimana dan bagaimana ia kini.

Kasus kedua, ada seorang teman yang sejak semula ingin memasuki dunia Sufi. Sebelumnya ia memang orang yang suka menyendiri, merenung dan mencoba berfilsafat tentang kehidupan ini. Makanya ia sempat masuk ke perguruan tinggi untuk menjadi Mahasiswa fakultas filsafat. Tidak lama ia kuliah fakultas filsafat , ditengah jalan ia drop out dengan dua alasan yaitu karena biaya dan karena ia tidak puas dengan yang ia dapat dari bangku Universitas.

Sebagai seorang yang sejak semula selalu diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan dari tujuan hidup, maka ia mengambil keputusan yang sama persis dengan keputusan yang diambil oleh Imam Al-Ghazali yang meninggalkan Bagdad, yaitu meninggalkan bangku kuliah dan keluarganya untuk menemukan jawaban yang pasti. Ia memilih tempat yang dirasa sesuai, yaitu tempat-tempat pemakaman para Wali(tempat-tempat peziarahan Wali Songo). Apa yang ai lakukan disana. Sudah pasti di tempat-tempat tersebut ia menjalani kehidupan seorang Sufi.

Ada banyak keanehan dan keganjilan yang dilakukan teman ini dalam memulai “kariernya” sebagai Sufi yang diantaranya seperti, ia menanggalkan pakaian yang bisa ia kenakan dan menggantinya dengan pakaian ala orang gila. Tidakk hanya dari segi pakaian saja, bahkan ia bertingkah laku seperti orang gila. Apa kini ia menjadi gila?? Ternyata tidak, hal tersebut ia lakuka untuk memerangi hawa nafsunya. Ia mematahkan nafsu riya', ujub dan takabur. Dengan berpenampilan seperti itu diharapkan rasa pamer dan riya' supaya dipuji orang itu sirna.

Ternyata keganlan teman ini berlanjut pada hal yang berkaiatan dengan syari'at. Ia sudah mulai berani menggalkan shalat, ia berasalasan hal tersebut ia lakukan untuk menemukan siapa Allah itu sebenarnya. Menurutnya shalat tidak pernah bisa khusyu' sebelum ia menemukan jawabaitu. Ringkasnya ia tidak shalat dulu sebelum ia bermakrifat dulu atau tahu betul tentang hakikat Tuhan. Tapi sampai kapan ia meninggalkan tiang gama itu?.

Itulah dua contoh kasus yang termasuk dalam penyimpangan jalan yang dilalui sebagian orang yang tidak sesuai dengan syariat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Monday, September 3, 2012

Bagaimana Rasulullah Memandang Dunia Ini

Suatu saat Umar berkunjung kepada Rasulullah, dia dapati Beliau sedang tidur-tiduran diatas tikar yang kasar sehingga meningalkan bekas guratan pada lambungnya. Melihat itu Umar menangis, Rasulpun bertanya “Apa yang membuat engkau menangis Umar?” lalu Umarpun menjawab “Aku melihat Kisra dan Kasar tidur diatas sutra, sementara saya melihat Anda tidur diatas tikar ini”. Rasul lalau berkata “Wahai Uar apakah engkau menghendaki Kekaisaran?”

Bagi Nabi, Dunia bukan suatu tujuan akhir dari segalanya. Dunia adalah sebentuk jalan penghubung untuk menuju pada kehidupan yang hakiki, yakni kehidupan akhirat . Tetapi perlu diingat bahwa duni dengan segala gemerlapnya itu bisa juga menjadi penghalang untuk seseorang sampai kepada Tuhan. Dari sini maka Nabi dengan keras melarang kepada kita untuk mencintai gemerlap dunia, sebab dengan encintai dunia adalah pangkal dari semua kehancuran manusia.

Sisi lain yang harus kita pahami juga, bahwa Nabi sebagai manusia layaknya kita ternyata tidak mengelak dari kebutuhan-kebutuhan dunia. Nabi makan, minum mencukupi kebutuhan keluarga layaknya kita. Makanya Nabipun memenuhi kebutuhan itu. Beliau memerintahkan kepada semua umatnya untuk bekerja, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau masih hidup selama-lamanya”, demikian pesan Nabi. Tidak hanya itu, bahkan Allah sendiri menjelaskan dalam surat Al-Qashash:77
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepada (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmun dari (kenikmatan) duniawi...”

Dari keterangan diatas kiranya dapat dikatakan karakter kehidupan sufi yang dijalani Nabi ternyata tidak membelakangi dunia. Sehingga dengan demikian ada keselarasan hidup antara kebutuhan-kebutuhan dunia dan kebutuhan-kebutuhan hidup akhirat. Gaya hidup sederhana yang dijalani Nabi bukanny membelakangi dunia, tetapi hal tersebut dilakuka sebab Nabi tidak ada rasa cinta kepada dunia, dimana perasaan itu jika sudah hinggap dihati Beliau akan menjadikan hidupnya semakin susah dan gelisah dibuatnya. Bukankah urusan-urusan dunia kalau kita pikirkan terus menerus tidak akan aa habisanya dan akan membuat manusia menjadi semakin gelisah? Dan bahkan bisa menjadi penghalang untuk bisa berada dekat dengan Allah.

Karakter seorang Sufi sejati yang berjalan diatas rel-rel sunnah Nabi sudah barang tentu akan memiliki sikap dan mentalitas terhadap kenyataan dunia seperti Nabi. Nabi melarang kita untuk mencintai dunia bukan melarang untuk mencarinya, sebab kita mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang wajib dipenuhi. Jadi tidak patutu bagi siapa saja yang mengaku sebagai umat Muhammad itu lari dari kenyataan hidup, membelakangi dunia dengan meninggalkan segenap tanggung jawab yang harus ia jalani. Nabi menganggap bahwa dunia sebagai kenyataan yang harus dihadapi dan bukan sebagai tempat persembunyian yang kita harus lari melemparkan diri jauh-jauh darinya.

Satu sisi lagi yang menunjukan bahwa Nabi adalah seorang sufi sejati yaitu dilihat dari segi akhlah beliau. Siapaun akan mengakui bahwa akhlak Nabi begitu agung. Keagungan akhlak beliau tidak hanya yang berhubungan dengan Allah (hablum min Allah) tetapi akhlaknya juga terhadap sesama manusia (hamblummin an nas).banyak riwayat yang menceritakan akan hal itu.

Suatu saat 'Aisyah ditanya bagamana gambarang Akhlak Nabi. Jawabnya “Akhlah Rasulullah adalah Al-qur'an. Allah ridho bersama keridhoan Beliau, dan Dia murka bersama murkanya Beliau ”. Jelas sekali disini bahwa segala tindakanya menjadi akhlak Nabi itu sesuai dengan ajaran-ajaran Al-qur'an. Tidak ada satupun tindakan yang menyimpang darinya. Tindakan Rasul adalah refleksi dari Al-qur'an itu sendiri. “Tuhanku yang mengajari tata krama”, sabda Nabi “Sehingga tata kramaku benar-benar sempurna”. Lanjut Beliau.

Kita bisa lihat betapa Rasul adalah contoh dalam masalah akhlak ini. Dalam masalah kasih sayang, misalnya, diriwayatkan bahwa saat perang Uhud dan wajah beliau tampak begitu kelam melihat apa yang dialami oleh para sahabtnya, kata para sahatanya “Berdoalah Ya Rasullah, semoga mereka (para musuh) tertimpa kekalahan.” Beliau menjawab : “Aku diutus bukan sebagai pencacimaki tetapi aku diutus sebagai penyeru dan pemberi rahmat. Ya Allah, berilah kaumku petunjuk sebab sebenarnya mereka tidak tahu”.

Nabipun dikenal begitu baik dalam pergaulan dengan orang lain, yang mengenai ini Ali bin Abu Thalib berkata “Beliau adalah orang yang paling lapang dada, kata-katanya paling bisa dipercaya, tata kramanya paling halus dan keluarganya adalah paling mulia. Beliau selalu bergaul, bersendau gurau dan berbicang dengan para sahabatnya, bahkan Beliau sangat menyayangi anak kecil, selalu memenuhi undangan orang yang mengundangnya, selalu mengunjungi orang sakit dan selalu menerima permintaan maaf”.

Tentang kerendah hatiannya, diriwatkan bahwa suatu ketika seseorang datang mengunjungi Beliau, namun begiti orang tersebut bertemu dengan Beliau, dia menggigil saking takutnya dan Nabi berkata kepada orang itu, “kenapa kamu ketakutan?aku bukan Raja aku hanya anak dari perempuan suku Quraisy, yang makan juga daging yang dikeringkan(makanan orng-orang miskin pada waktu itu)”.

Sikap pemalu Beliaupun sudah dikenal banyak orang. Dan diriwayatkan, bahwa Abu Sa'id al Khudri berkata “Nabi lebih pemalu dari pada wanita pingitan. Kapan Beliau tidak menyukai sesuatu, kita bisa ketahui dari roman wajahnya:.

Mengenai kegemaran memberi dan derma, beliau dalam hal ini adalah suri tauladannya. Diriwayatkan oleh Jabir bahwa Beliau bersabda “idak pernah sama sekali Rasulullah, ketika dimintai sesuatu, lalu berkata “tidak”. Beliau selalu memenuhi apa yang diminta seseorang kalau beliau memilikinya. Kalau tidak begitu Beliau berjanji akan memberikan kapan bisa memberinya”.

Mengenai akhlah dan tingkah laku beliau dengan orang lain, salah seorang sahabat menggambarkan sebagai berikut “”Rasulullah adalah seorang yang lemah lembut, tidak bersikap keras ataupun kasar, tidak pembual, tidak suka berbuat keji. Beliau selalu berusaha melupakan hal-hal yang tidak berkenan dhatinya, dimana Beliau tidak pernah putus asa untuk mengusahkannya. Selain itu beliau telah menanggalkan tiga hal dari dirinya sendiri, yaitu “ riya', sifat angkuh, dan hal-hal yang tidak Beliau ingini. Lebih jauh lagi, Beliau menginggalkan tiga hal untuk orang lain, yaitu tidak mencela atau tidak mencela orang lain, tidak mencari-cari kejelekan orang lain dan tidak memperbincangkan sesuatu kalaau tidak ada gunanya. Ketika beliau berbicara para pendengarnya akan bungkam semua sekan diatas mereka bertengger seekor burung. Ketika Beliau diam merekapun berbicara tanpa pernah bertengkat dihadapan Beliau”.

Dalam kenyataanya, adalah sulit bagi kita untuk mengungkapkan akhlak Nabi. Tetapi setidak-tidaknya dengan uraian tersebut diatas bisa kita jadikan suatu gambaran betapa Nabi Muhammad yang seorang Sufi sejati tersebut masih senantiasa menjalin hubungan dengan sesama manusia dengan berlandaskan akhlakul karimah. Hal ini tentu bisa dipahamkan bahwa ajaran Sufi yang dicontohkan Nabi mengisyaratkan bahwa seorang Sufi seharusnya menjalin hubungan sosial dengan sesamanya. Ia harus bergumul dengan masyarakat, bersatu dan berpadu dalam kehidupan nyata serta berperilaku yang berlandaskan akhlak mulia yang dicontohkan Nabi. Inilah perilaku Sufi sejati, dimana ia tidak harus menjaga jarak dengan mengisolasi diri sehingga terbuang atau membuang diri sejauh-jauhnya dari komunitas manusia.

Apakah Nabi Seorang Sufi ???


Dalam Artikel ini kami mencoba menggambarkan pola kehidupan Nabi yang penuh dengan nilai-nilai ajaran Sufi akan membimbing kita pada suatu pemahaman tentang siapa seorang yang disebut sebagai Sufi yang sebenarnya.

Sebelum diangkat menjadi seorang Nabi, ada kebiasaan yang sering dilakukan oleh Muhammad, yaiut khalwat atau menyendiri. Sengaja Beliau memilih Gua Hira' sebagai tempat khalwatnya sebab ditempat tersebut jauh dari hiruk pikuk dan keramaian dunia. Mengapa dan apa yang dilakukan Nabi ditempat tersebut?

Pertanyaan ini harus terjawab untuk eluruskan persepsi banyak orang yang menganggap bahwa khalwat adalah lari menjauhi kenyataan dunia dengan meninggalkan segenap taggung jawabnya. Alasan Nabi mengapa memilih tempat tersebut sebagai upaya mengasingkan diri adalah penyucian diri dari pengaruh -pengaruh hawa jahili yang saat itu semakin memanas. Tidak untuk selamanya Nabi bersembunyi ditempt itu, melainkan untuk sementara waktu menggembleng mentalnya dan mensucikan htinya untuk kembali lagi pada kebisingan dunia yang akan dihadapinya.

Ditempat yang sepi itu yang dilakukan Nabi adalah suatu upaya untuk mendekatka diri kepada sang Khalik dengan berpikir, merenung sambil berzdikir dan bersujud. Beliau sucikan hati, jiwa dengan segenap raganya dari kotoran-kotoran dosa dengan memusatkan segala pikiran dan perasaanya hanya tertuju kepada Allah semata. Hingga akirnya ditempat itu Nabi menemukan petunjuk berupa wahyu Allah sebagai jawaban dari pertanyan-pertanyaan yang sebelumnya menjadi kegelisahan dalam kalbunya.

Itulah inti dari tujuan khalwat yang dilakukan Nabi. Pengasihan diri yang beliau lakukan untuk meninggalkan kenyataan dunia sebelum Beliau bergumul dengan kenyataan dunia dengan segala tanggung jawabnya yang begitu berat, beliau pusatkan terlebih dahulu segenap hati, jiwa dan raganya kepada Allah. Hingga dapat dilihat bahwa betapa Nabi telah berhasil tampil seagai sosok manusia yang sempurna baik dimata manusia maupun dalam pandangan Tuhan.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa kebiasaan Nabi berkhalwat dibulan Ramadhan. Didalam Gua Hira'itu, beliau menjauhi keramaian hidup, menghindari kemewahan dan kelezatan dunia, menghindari makan dan minum berlebihan, dan mereneungi juwud sekaliann yang ada. Ini semua telah membuat kalbu beliau menjadi jernih, dan merupakan pengantar terhadap kenabian Beliau yang berlangsung sampai Jibril turun menyampaiakan wahyu.

Jelas sekali dari riwayat tersebut bahwa ada waktu-waktu tertentu dimana Nabi harus menyendiri disuatu tempat yang sepi tanpa harus meninggalkan keluarga dengan segenap tangguung jawabnya dan komuitas masyarakat dimana beliau tinggal. Hal ini mengisyaratkan bahwa memang secara psiologis manusia pada saat-saat tertentu dan tempat-tempat tertentu pula membutuhkan untuk menyendiri, khalwat untuk menjalin hubungan dengan Allah. Secara simbolis Nabi memilih Goa Hira' sebagai tempat pengasingan diri, yang itu tidak bisa kita pahami secara tekstual. Kita bisa khalwat sebagaimana dicontohkan Nabi dengan tanpa harus pergi mencari sebuah goa, atau pergi kepuncak gunung , di lembah atau hutan yang tidak berpenghuni. Kiranya cukup kita berada didalam rumah kita sendiri, dalam sebuah kammar atau bilik kecil misalnya. Kita pilih saat yang tepat misalnya tengah malam dimana sunyi sepi, senyap mewarnai bumi. Kita sucikan hati kita dan kuta pusatkan segenap jiwa dan raga ini kehadirat Allah pada saat gelap telah menyelimuti seluruh yang ada di alam ini. Dan ternyata inilah yang kita dapatkan dari kehidupan Sufistik yang dijalani oleh Nabi, terutama setelah beliau menerima wahyu.

Banyak riwayat menyebutkan betapa hebatnya ibadah Nabi yang kita mencerminkan peribadatan seorang Sufi. Istri Beliau sendiri 'Aisyah, misalnya pernah bertanya kepada Nabi sewaktu dia melihat betapa lamanya Nabi mengerjakan shalat malam hingga membuat kakinya bengkak. “Wahai Rasulullah, mengapa ini Kau lakukan, bukankah Allah telah mengampuni segal dosamu, baik yang dahulu maupun yang aan datang?” tanya 'Aisyah. Rasulullah menjawab, “Tidakkah aku akan bersenang hati jika menjadi hamba yang bersyukur?”

Nabi yang jelas-jelas dijamin masuk surga, yang nyata-nyata dijaga oleh Allah dari perbuatan dosa, tetapi masih berusaha untuk menghadirkan kekusyu'annya kehadirat Allah dalam beribadat. Tak jarang Nabi melelahkan air matanya saat bersujud dihadapan Allah. Beliau selalu berpesan dalam urusan ibadah dengan suatu wasiat “Bekerjalah kamu untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”

Dari beberapa riwayat tersebut, jelasnya ternyata kehiduoan sufi yang dijalani Nabi dibangun dengan jalan syariat. Pengalaman akan syariat adalah merupakan pendakian tangga yang bisa menghubungkan antara hamba dengan sang Khalik. Hubungan antara abdi dengan Tuhannya tidak akan pernah bisa terjalin selagi tidak dilalui dengan tangga syariat tersebut. Jadi tidak ada argumen atau alasan satupun yang bisa dibenarkan bahwa seorang Sufi, misalnya karena maqamya sudah tinggi bisameninggalkan syari'at, atau meremehkannya sekalipun. Bahkan sebaliknya, seorang Sufi sejati yang berjalan diatas sunah Rasul, pastilah mereka akan bertingkah ,bertindak atau berperilaku seperti yang sudah sicontohkan oleh Rasul. Yang ada hanyalah bahwa Rasul itu manusia yang sempurna imanya, begitu agung akhlaknya sehingga terpancar disetiap tingkah laku yang dijalaninya. Sisi lain dapat dilihat yang itu merupakan kehidupan seorang Sufi yang terdapat pada pribadi Nabi adalah sikap dan mentalitasnya terhadap dunia. Banyak riwayat yang menerangkan bagaimana sikap Nabi terhadap dunia ini. Slah satu hadist menjelaskan bahwa Beliau bersapda “Keuntungan apa yang dapat aku ambil dari duniaini? Perumpamaan ku dengan dunia ini seperti seorang musyafir yang beristirahat sebentar ditengah perjalanan musim panas, yang akan segera meninggalkannya”. Beliau bersabda pula : “Diakhirat nanti dunia tidak berarti sedikitpun. Ia hanya jari yang engkau celupkan kelaut, perhatikan berapa air yang bisa terangkat saat jari tadi dikeluarkan?”.

Diriwayatkan bahwa Rasul pernah memberi tawaran kepada Abu Hurairah, “Waai Abu Hurairah maukah engkau aku tunjukan dunia seisinya?” Abu Hurairah menjawab : “Dengan senang hati Wahai Rasulullah!” Kemudia kata Abu Hurairah Rasul menarik tangannya dan menuntunnya kesebuah jurang yang ada di Madianah. Disana ada tempat sampah yang didalamnya ada tengkorak-tengkorak manusia, kotoran, rongsokan dan tulang belulang. Kemudian Beliau bersabda “Wahai Abu Hurairah kepala-kepala ini dulunya sangat loba seperti lobanya kalian semua. Maka beginilah keadanya sekarang menjadi tengkorak tak berkulit yang nanti akan menjadi abu. Kotoran ini adalah macam-macam makanan mereka yang mereka peroleh dengan jalan apa saja kemudian dibuang dari perut mereka, maka beginilah jadinya. Sementara manusia asih te”tap saja mengerumuninya. Rongsokan-rongsokan ini adalah pakaan dan perabot mereka, maka jadi seperti ini tinggal angin yang menggoyang-goyangkannya. Dan tulang-tulang ini dulunya adalah hewan-hewan kendaraan mereka yang digunakan untuk mengunjungi pelosok-pelosok kota. Barang siapa yang masih menangisi dunia maka menangislah”.

Seoran lelai datang kepada Rosulullah dengan mebawa makanan (hadiah), lalu Beliau mencari bejana untuk dijadikan sebagai tetapi Nabi tidak menemukannya. Lalu Beliau bersapda “letakkan saja di tanah” Rasulullah memakanya sedikit lalu bersabda “ Aku makan seperti layaknya hamba sahaya makan. Aku minum layaknya mereka minum. Andaikan dunia ini disisi Allah selembar sayap nyamuk, niscaya tiada tempat untuk memberi minum orang kafir setetespun”

Sunday, September 2, 2012

Wali adalah Yang beriman dan bertakwa

Mereka-mereka para wali yang dijuluki oleh Allah adalah yang beriman dan bertakwa. Iman adalah suatu kepercayaan dalam sanubari, yang tidak hanya sebatas pada ucapan, melaikan harus dibuktikan dengan suatu tindakan nyata. Tidakan nyata yang dimaksud disini adalah menjalankan apa yang sudah menjadi syariat agama yang sudah ditetapkan oleh Allah. Dalam penjelasan ini, tindakan nyata bisa diukur dalam segi ibadah, maka sejauh itu pulalah ia membuktikan keimanan yang telah ia ikrarkan sendiri dalam hatinya.

Dalam kesempatan lain Islam ternyata menyebut orang-orang yang benar-benar beriman dengan sebutan muttaqin(orang-orang yang bertakwa.) Takwa adalah menjalankan semua syari'at agama ; menjalankan semua perintah Allah sekaigus menjauhi segala apa yang sudah dilarangNya. Pengertian yang seperti ini menunjukan bahwa antara iman dan takwa harus saling berkaitan. Antara keduanya tidak bisa dipisahkan, sebab keduanya merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Seorang yang mengaku beriman haruslah bertakwa, ia harus menyesuaikan segala aktivitas hidupnya dengan apa yang sudah digariskan oleh Allah. Ia harus berbuat baik, baik dalam kaitanya hubungan dengan Sang Khalik maupun sesama manusia. Mengapa? Sebab hal itu diperintahkan oleh Allah. Juga, ia harus meninggalkan jauh-jauh segala perbuatan mungkar sebab itu adalah merupakan larangan dari-Nya.

Wali yang disebutkan Allah adalah manusia-manusia dalam kategori ini. Wali adalah orang-orang yang berimman sekaligus bertakwa. Mereka dalah orang-orang yang selalu menyandarkan semua amaliyanya dengan ukuran syari'at Allah. Mereka akan senantiasa menyelaraskan semua perbuatan dengan apa yang dimaui Tuhannya. Dengan pengertian ini maka tidak ada alasan satupun yang membolehkan atau menganggap sah bagi seorang wali yang segala tindak tanduknya sesuai dengan jalan yang telah ditetapkan oleh Allah, sementara itu kalau ada wali atau seorang dianggap wali oleh orang banyak yang menyimpang dari syari'at agama yang telah dibawa oleh Nabi adalah bukan wali.

Dalam kaitanya dengan ini Imam Al-Ghazali pernah mengatakan “Ketahuilah bahwa orang yang bisa berjalan dijalan Allah itu sedikit, tetapi yang mengaku-aku banyak,aku tunjukan dua tanda untuk menelitinya; salah satuya, hendaknya segal tingkah lakunya mengikuti wazan (timbangan) syari'at yang mulia. Tidak akan sampai padanya kecuali orang-orang yang mendirikan sunah. Maka, bagaimana orang bisa kesana jika masih suka meninggalkan yang fardhu(yang diwajikan kepadanya). Jika kamu bertanya : ” apakah seseorang bisa mencapai derajat sampai dihapuskannya sebagian kewajiban ibadah, dan diperkenankannya untuk melakukan hal yang haram, seperti yang telah dikatakan oleh sebagian masyayih(para Guru)yang ceroboh dalam masalah ini? “.
Ketahuilah bahwa itu adalah sebentuk tipuan. Ulama yang teliti pasti akan mengatakan “Jika engkau tau seseorang bisa berjalan diatas air, sedangkan ia melakukan hal yang bertentangan dengan syariat, maka ketahuilah bahwaorang itu adalah setan”.

Dari berbagai kajian etimologi kata sufi sebagaimana dijelaskan pada postinga-postingan sebelmnya maka sampailah pada kesimpulan yang tepat tentang sufi. Sufi adalah manusia-manusia yang senantiasa menghiasi hidupnya dengan iman dan takwa. Mereka adalah manusia yang mempersembahkan semua hidupny kepada Allah sehingga tidak ada rasa takut dan gelisah sedikitpun keciali kepada-Nya. Mereka dalah manusia-manusia yang hatinya selalu bersih dari sesuatu yang selain Allah.

Definisi senada akan kita temukan. Sayyid Husain Nasar, misalnya, mendefinisikan sufi adalah ia yang telah bersih dari semua keinginan. Kehidupan batinnya bersih dari kemalanga.

Kata-katanya bebas dari kelalaian, kealpaan dan fitnah. Pikirannya bersinar-sinar dan matany mengelak dari dunia. Ia telah mendapat petunjuk dari yang benar.

Al-Ghazali mengatakan, Sufi adalah kelompok yang selalu berjalan dijalan Allah, budi pekerti mereka adalah sebaik-baiknyabudi pekerti. Tarekatnya paling tepat, akhaknya paling suci. Andaikan akal para pemikir dan filosof serta para ilmu Ulama yang mengerti rahasia syaria'at dipadukan untuk menggantikan akhlak dan budi pekerti mereka agar lebih baik, mereka tidak akan menemukan jalan. Gerak dan diam mereka, lahir batin adalah serapan dari pancaran Nur Nubuwwah (cahaya kenabian), yang tidak ada cahay dibumi ini kecuali hanya cahaya itu.

Allah secara tegas berfirman daam surat Al Ahzab:21 yang kurang lebih artinya sebagai berikut :
“Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bai bagi dirimu(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kimat dan dia banyak menyebut Allah”


Satu-satunya manusia yang layak dan seharusnya kita jadikan contoh, panutan dan publik figur adalah Nabu Muhammad Shalallahu'alaihi wasallam, sebab Beliau adalah satu-satunya manusia yang paling sempurna dimuka bumi ini. Kesempurnaan Nabi, terutama yang terpancar dari akhalnya ternyata telah diakui oleh semua kalangan, tidak hanya kaum muslim pada saat iru tetapi juga kaum kuffar. Tidak hanya kawan teteapi juga lawan, tidak hanya manusia tetapi bahkan Allah sendiri telah memujinya; “sesungguhnya engkau (Muhammad) berakhak mulia”, demikian firman Allah.

Sebagai uswatun hasanah (tokoh panutan), sesunggunya Nabi telah memberikan contoh dalam segala hal yang berkenaan dengan hidup ini. Contoh yang diberikannya tidak hanya sebuah teori tetapi telah menjadi realitas dalam kehidupan nyata Beliau, yakni bagaimana hidup yang diridhai Allah. Hingga dari sekian banyak contoh yang diberikan kiranya kita dapat melihat Nabi berperilaku sebagai Bapak yang baik untuk anak-anaknya atau bagaimana suami yang baik kepada Istrinya. Juga Nabi memberikan contoh yang sebaiknya kita tiru, yaitu bagaimana seorang pemimpin yang bijaksana terhadap semua semua rakyatnya, bagaimana seorang pedagang yang jujur kepada pembelinya, sampai contoh bagaimana seorang tetangga yang baik kepada tetangganya . Tak terkecuali dalam masalah ini Nabi juga memberikan suatu suri tauladan bagaimana Sufi yang benar dan tidak menyimpang dari ajaran Islam yang dibawanya.

Para ahli menyatakan bahwa gaya hidup yang dijalankn oleh Nabi adalah mencerminkan perikehidupan seorang sufi yang sejati. Cerminan Sufistik yang dicontohkan Nabi adalah meliputi dari semua segi-segi kehidupan yang dijalani dari mulai akhlak ketika melakukan interaksi sosial dengan manusia lain, mentaitasnya terhadap isi dunia sampai akhlak beliau terhadap Allah ketika kusyu' dalam ibadah . Sisi-sisi kehidupan yang sarat dengan muatan sufistik sesungguhnya bisa kita jadkan suatu tolak ukur sejauh mana ajaran sufi itu benar-benar sesuai dengan apa yang telah dicontohkan Nabi yang bersumber pada ajaran Nabi sedangkan yang menyimpang dari ajaran Beliau sudah pasti salah atau bahkan sesat.

Saturday, September 1, 2012

Melihat Sufi Jangan Hanya Dari Pakaiannya Saja


Sebelumnya dijelaskan bahwa pengertia Sufi ada bermacam-macam salah satu dari kata Shuf yaitu sejenis pakaian. Dengan jenis pakaian Shuf ini Rasullah sendiri pernah memakainya. Demikian pula para sahabat bahkan ada satu golongan yang selalu memakainya sebagai tanda bahwa seseorang dalam golongan tersebut. Nabi bercerita “Sesungguhnya Nabi Musa ketika berbicara dengan Tuhanya memakai jubah Shuf”. Hasan Basri bercerita: aku pernah bertemu dengan sebanyak 70 ahli badar yang memakai pakaian Shuf.

Menurut Thaha A. Baqi Surur,pendapat ini dimana kata sufi disandarkan pada hal yang berhubungan dengan pkaian sebagai simbul seorang zahid tidaklah dapat dipakai sebagai sumber pengambilan yang kuat, tetapi sekedar praktek yang terjadi setelah munculnya gerakan tasawuf Alasan mereka memakainya adalah karena shuf adalah pakaian yang bisa dikenakan oleh para Nabi. Dan hamba-hamba salih sejak munculnya sejarah. Ini berarti bahwa alasan memakai pakaian tersebut adalah merupakan langkahmeniru atau mengikuti tradisi sunnah para Nabi dan mencontoh kebiasaan -kebiasaan berpakaian ala hamba-hamba yang shalih. Kita jangan sampai menafsirkan bahwa pakaian shuf adalah merupakan suatu simbul dari tampilan fisik kehidupan para sufi. Sebab jika penafsiran ini benar-benar dipegang kuat-kuat, maka yang akan muncul adalah suatu kesan bahwa penampilan seorang sufi harus seperti itu, selain yang berpenampilan seperti itu bukan sufi.

Para tokoh Sufi sendiri ada yang mengecam terhadap para Sufi yang selalu menonjolkan sisi luar dari penampilan mereka, terutama yang nampak pada sisi pakaiannya yang lusuh dan kumal. As Syubali, misalnya mengatakan, “Zuhud adalah sifat yang tersembunyi di dalam hati, lantas tergambar dari pakaian. Dahulu zuhud berimplikasi pada amal, namu
n sekarang menjadi identik dengan kain lusuh. Celaka...! Tasawufkan hatimu bukan jasadmu, dan perbaiki niatmu, jangan kau sobekan bajumu“.

Al Junaid berkata, “”Jika kau temui seorang Sufi yang menampakkan lahirnya, ketahuilah bahwa hatinya itu hancur, yang tampak hanyalah pakaian yang kusam”.

Dikatakan kepada Abu Hasan bin Sam'un “Wahai Syaikh..! Anda mengajak manusia untuk kepada Allah dan berpaling kepada dunia . Tetapi anda sensiri ternyata memakai pakaian paling bagusmemakan menu yang terlezat. Mengapa bisa demikian?” Jawab Abu Hasan, “Segala apa yang mampu memperbaiki hubunganmu dengan Allah, maka kerjakanlah! Apabila hubunganmu dengan Allah menjadi membaik karena pakaian bagus dan makanan lezat, maka hal itu tidak ada masalah”.

Suatu ketika Abu Muhammat bin Akhi Ma'ruf al Karkhi menemui Abu al Hasan bin Basyar yang sedang mengenakan jubah dari shuf. Abu hasan berkata kepadanya “Wahai Abu Muhammad sudahkah kamu mentasawufkan hatimu, atau pakaianmu saja?? tasawufkan hatimu dan berpakainlah yang halus”.

Kata sufi yang memiliki arti bening berasal dari kata shofa. Abu al Fath Basti, dalam menjelaskan kata sufi yang lebih pas disandarkan pada kata shofa, ia tuangkan dalam sebuah syair berikut :

Tentang sufi orangpun tidak sejalan
Mereka selisih paham dari shuf dikirakan
Pada seorang gelar ini tidak kukenakan
Kecuali orang yang bening hati gelar Sufi layak disandar

Kata “Shofa” yang dimaksud disini adalah bening hati. Dengan demikian, satu ciri khas yang menjadi suatu kemestian dari seorang sufi adalah ia harus bening dan bersih hatinya.

Dari sekian banyak kajian etimologi tentang kata sufi saya lebih condong pada penyandaran kata Sufi yang terakir ini. Penyandaran kata Sufi yang betendensi pada bersih hati adalah penampakan dari karakter Sufi yang sejati. Tidak ada immage negatif dari pengertian yang demikia, serta tidak ada kesan nyleneh yang bisa dibuat-buat kecuali Sufi adalah sekelompok orang yang senantiasa berusaha membersihkan hatinya untuk bisa dekat dengan Allah. Hal ini sangat sesuai dengan ajaran Tasawuf itu sendiri, dimana inti dari ajaranya adalah membersihkan hati (tazkiyatun nasfi) dari segala sesuatu yang selain Allah untuk mencapai kebenaran yang hakiki (baca: ma'rifat).

Penyandaran kata Sufi kepada kata shofa seperti diatas akan nampak begitu sesuai dengan pengertian sufi yang sesungguhnya ketika kita coba kita bandingkan dengan kata sinononimnya, yaitu kata “wali”. Didalam Al-qur'an, Allah sendri memberikan batasan pengertian wali seperti pada QS. Yunus : 62-63 yang kurang lebih artinya sebagai berikut :

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak pula bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa”.

Ada dua indikasi dari karakter orang-orang yang oleh Allah disebut sebagai wali; pertama, mereka-mereka tidak pernah takut, gentar oleh siapapun dan apapun yang membuat mereka sampai bersedih hati. Pengertian takut disini memiliki pengertian yang sangat luas, yaitu meliputi semua aspek kehidupan yang dijalani oleh manusia. Dalam kaitanya dalam kehidupan materi misalnya, seorang wali tidak mempunyai perasaan khawatir apalagi sampai takut tidak bisa makan, takut tidak bisa menghidupi keluarga, atau takut tidak bisa menyekolahkan anak dan lain-lain. Dalam hati seorang sufi sudah tertanam keyakinan yang begitu kuat bahwa tidak ada satupun makluk hidup di kolong langit ini yang tidak dijatah rizki oleh Allah, sebab hal tersebut sudah merupakan janji Allah sendiri kepada semua makluk-makluknya. Begitu juga kaitanya dalam masalah perjuangan untuk menyerukan suatu kebenaran, seorang wali tidak mempunyai perasaan khawatir dan takut sedikitpun kepada siapa saja. Ia tidak takut pada ancaman-ancaman para penguasa, tidak takut pada ulminatum-ultimatum yang dihadapi walaupun harus menaruhkan nyawanya sekalipun. Yang tertancap dalam hati seorang wali adalah bahwa Allah selalu menyertai mereka dimanapun, kapanpun dan disetiap gerak langkahnya . Dengan demikian tidak ada yang perlu dikhawatirkan apalagi ditakutkan. Bukankah segala daya upaya yang dilakuka oleh seorang manusia kepada manusia lain akan tidak ada gunanya sama sekali kalau Allah berkehendak lain?

Dalam masalah menjalankan peribadatan pun demikian. Seorang Wali tidak ada rasa sedikitpun yang menjadikan ia khawatir atau takut dengan tanggapan-tanggapan orang lain. Sufi tidak akan pernah mau memperdulikan apa kata orang terhadap mereka, predikat apa yang akan diberikan orang lain kepada mereka, atau bahkan cercaan-cercaan apa yang akan diberkan orang lain terhadapnya. Baginya semua penilaian ada ditangan Allah penilaian manusia kepada manusia lain sangatlah subyektif. Sedangkan penilaian yang ada ditangan Allah adalah penilaian yang hakiki. Yang berada dilubuh hati seorang wali adalah segala sesuatu yang ia kerjakan adalah karena Allah. Dengan demikian yang ada hanyalah ikhlas tidak ada riya', ujub atau pamer kepada selain Allah sehingga ia tidak menampak-nampakan kualitas peribadatannya. Yang hanya ditakuti seorang Sufi segala tindak tanduknya akan membuat Allah murka Itu saja!

Terbebasnya wali dari rasa khawatir dan takut seperti diatas telah membuat hati wali menjadi bersih dari kotoran-kotoran dosa yang itu bisa membuat hubungannya dengan Allah menjadi tidak harmonis. Allah dalam kehidupan seorang wali ditempatkan pada posisi di atas segala-galanya. Allah adalah menjadi titik sentral disetiap aktivitas kehidupannya dari mulai tingkahlaku, bergaul dengan anusia lain, bekerja atau bahkan sampai pada aktivitas pompa jantung dan aliran darahnya semua tertuju kepada Allah.