Kemarin ditanya adik apakah tomat itu termasuk sayur? Karena dia melihat di sebuah TV Katanya Tomat adalah sayur, padahal waktu saya masih kecil dulu nyanyiannya Buah Tomat bentuknya bulat, rasanya amat lezat, membikin badan sehat dan kuat :D, apa lagunya yang salah ya??? Apa lagi Istri saya juga sependapat kalau Tomat itu merupakan sayuran, wah kalau benar begitu si pencipta lagu telah melakukan penipuan kepada anak-anak. Benar tidak ya??
Setelah mencari-cari kesana-kemari akhirnya saya menemukan sebuah titik terang dari masalah Pertomatan tersebut. Jadi gini ceritanya dilihat dari istilahnya, sayur merupakan istilah dalam dunia kuliner, sedangkan buah adalah istilah dalam ilmu biologi, jadi tidak ada istilah sayur dalam ilmu biologi, kalau gak percaya tanyakan sana sama Bu Guru SD (bukan iklan mie ).
Pengertian buah sendiri secara biologi adalah bagian tanaman yang berfungsi sebagai cadangan makanan dan melindungi biji sebagai bakal hidup generasi penerus tanaman yang berupa biji tersebut.
Nah kalau dari pengertian tersebut berarti Tomat termasuk buahkan?? jadi pencipta lagu buah tomat tidak melakukan penipuan dong.
Itu kalau ditinjau dari ilmu biologi, coba kita lihat dulu bagaimana definisi buah dan sayur
oleh ahli botani.
Buah di definisikan sebagai ovarium matang tanaman unggulan, dan pada umumnya pada pohon buah terdapat bunga, sementara itu istilah sayur lebih mengacu ke bagian-bagian tanaman yang bisa diolah untuk dimakan, seperti daun dan juga akar.
Lalu apa saja perbedaan antara Buah dan Sayur ?
Pertama :
Buah dan sayur mempunyai peran sendiri-sendiri, sayur adalah bagian tumbuhan yang berfungsi sebagai penjaga tanaman untuk kelangsungan hidup sang tanaman, seperti tugas daun yang mengumpulkan panas matahari untuk melakukan fotosintesis dan akar yang berfungsi sebagai pengangkut air dan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman.
Sedangkan buah memainkan peranan sebagai penyebar atau peningkat populasi tanaman. Atau dalam istilah biologi disebut reproduksi.
Kedua
Banyak orang yang salah paham, mereka mengira perbedaan buah dan sayur dilihat dari rasanya itu karena kebanyakan buah memang terasa manis jadi yang selain rasa manis bukanlah buah. Seperti Tomat, labu, cabe, mentimun, alpukat, kacang polong, labu, zucchini, paprika, buah zaitun.
Karena buah-buahan tersebut tidak terasa manis bukan berarti masuk dalam kategori sayur. Kenapa demikian?? kembali lagi pada definisi ovarium sayur dan buah diatas.
Ketiga
Tidak sedikit jenis tanaman yang kita konsumsi bukan termasuk buah maupun sayuran. Meskipun demikian jenis tanaman tersebut baik untuk di konsumsi. Misalnya kacang tanah, ini bukanlah jenis dari buah maupun sayur, para ahli botani lebih mengelompokkan kacang tanah sebagai jenis kacang-kacangan dari pada buah maupun sayur. Jamur, ubi, juga tidak dalam kategori ini
Dan akhirnya setelah melihat dari pengertian buah dan sayur secara biologi dan botani, dapat diambil kesimpulan bahwa tomat masuk dalam keluarga Buah. Selamat buat Tomat :D
Semoga tulisan ini bisa memuaskan rasa penasaran anda. Terima Kasih
Saturday, September 8, 2012
Secara Perlahan Amarah Menghilangkan Perasaan Yang ada di Hati
Menyambung postingan sebelumnya tentang 9 penyakit hati menurut Al-Ghozali, penyakit yang kedua setelah tindakan israf adalah berbicara yang tiada guna. Nabi bersabda, “ Berbicaralah yang baik, atau kalau tidak bisa lebih baik kamu diam”. Banyak sesungguhnya bahaya yang ditimbulkan oleh lidah. Dalam kehidupan sehari-hari seseorang bisa saja selamat atau malah mendapat bencana besar dari orang lain tergantung pada ke hati-hatiannya dalam menjaga bicaranya. Agama memerintahkan untuk tidak bicara banyak apalagi yang tiada manfaat dan menganjurkan untuk diam adalah upaya dalam penyelamatan manusia dari bencana tersebut.
Berbicara yang tiada guna sebenarnya merupakan bentuk pengumbaran nafsu lidah. Bisa dipastikan bahwa orang-orang yang sering berkata yang tiada guna itu banyak omongnya. Orang-orang demikian biasanya sering kali mengumbar bicara kesana kemari tanpa tahu maksud dan tujuannya, hingga pada akhir pembicaraan ujung-ujungnya adalah sebuah gosip atau mencari-cari kelemahan dan kesalahan orang lain. Itulah mengapa bisa dipastikan bahwa semakin seseorang itu banyak bicaranya maka semakin banyak pula salah dan dosanya terhadap orang lain.
Selain mempunyai madzarat terhadap keselamatan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat, mengumbar omong ternyata bisa menyebabkan kelalaian seseorang untuk mengingat Tuhan. Dalam hal ini Al-Ghozali mengatakan:
“Ketahuilah, bahwa jika engkau mengatakan sesuatu yang tidak ada manfaat bagimu, maka engkau telah menyia-nyiakan umurmu dan menempatkan dirimu pada penghisaban serta mengganti lebih baik dengan yang lebih rendah. Kalau engkau mengingat Allah sebagai ganti dari berbicara yang tiada guna, atau engkau diam, atau engkau menyibukkan diri dengan berpikir, niscaya engkau akan memperoleh suatu derajat yang mulia”.
Dengan banyak melakukan pembicaraan yang tidak ada manfaatnya sama sekali itu berarti telah membuang banyak waktu untuk kesia-siaan. Banyak waktu terbuang begitu saja untuk hal-hal yang mubadzir. Tentu ini akan membawa suatu konsekuensi, yaitu waktu untuk mengingat Allah akan tersita dan tersedot pada waktu yang sia-sia. Dan jika hal ini terus saja berlalu, di mana banyak waktu terbuang sia-sia bahkan akan menambah banyak dosa sementara itu waktu untuk mengingat dan dzikir kepada Allah hanya dalam porsi yang sangat minim, maka perlahan namun pasti hati akan berada jauh dan semakin jauh dengan Allah.
Sifat yang ketiga adalah marah. Marah adalah se bentuk ketidak mampuan seseorang untuk menahan hawa nafsunya. Al-Ghazali mengatakan bahwa marah adalah api yang tersembunyi di dalam hati seperti tersembunyi nya bara api di dalam sekam yang akan muncul dengan tiupan dari dalam. Kemungkinan api marah tersebut adalah sebuah api yang merupakan asal penciptaan setan.
Suatu saat Rasul berkata kepada para sahabat, “Siapakah menurut kalian orang perkasa itu?” Para sahabat menjawab : “Ialah orang yang tidak terkalahkan oleh siapaun”. Maka Rasulullah menjawab : Bukan itu, melainkan orang yang perkasa adalah orang dapat menguasai dirinya ketika marah“.
Seseorang dapat diketahui apakah ia berhasil dalam mengekang hawa nafsunya atau tidak dapat dilihat sejauh mana ia dapat meredam kemarahannya. Memang teramat sulit untuk mengekang nafsu amarah ini. Sebab tindakan ini merupakan perjuangan untuk melawan dirinya sendiri dan bukan orang lain. Tapi hal tersebut bukan lah tidak mungkin untuk bisa di upayakan. Bagamanapun nafsu marah harus diperangi sebab amarah seringkali membuat manusia tidak tahu lagi siapa dirinya. Kita bisa lihat bagaimana mana orang yang sudah dikuasai oleh kemarahannya, maka pada saat itu matanya buta, perasaannya seketika hilang, perhitungan-perhitungan akal sudah lagi tidak digunakan. Ia tidak lagi melihat dan menimbang akibat apa yang nanti akan terjadi. Ia tidak mempedulikan semua itu, yang penting ia sudah melampiaskan kemarahannya.
Secara Psikologis kemarahan akan menjadikan hati menjadi keras. Secara perlahan-lahan kemarahan akan menghilangkan perasaan-perasaan kemanusiaan yang ada dalam hati seseorang, dan jikalau perasaan hati menjadi keras sebab tidak ada lagi perasaan kemanusiaan didalamnya, maka hati akan menjadi beku seperti batu yang tentu demikian akan sulit sekadar untuk menerima bisikan-bisikan lembut yang datang dari Tuhan.
Keempat, hasad. Hasad adalah suatu sifat membenci terhadap keberhasilan yang telah diperoleh oleh orang lain. Dalam bahas kita hasad bisa diartikan iri dan dengki.
Sisi keburukan yang ada dalam sifat hasad sebenarnya bukan hanya berupa kebancian terhadap orang lain karena keberhasilan nya, melainkan juga terhadap sifat ambisi yang begitu kuat untuk memiliki keberhasilan tersebut. Sehingga dengan demikian jika seseorang telah mendapatkan keinginannya itu dia akan bangga dengan keberhasilan nya. Atau jika ia tidak berhasil mencapai ambisinya maka kebencian nya terhadap orang lain akan bertambah pula.
Tidak ada sisi yang baik dalam sifat hasad. Semua sifat yang ditimbulkan darinya akan selalu berefek negatif. Makanya Nabi sampai bersabda dalam sebuah hadis mengenai sifat hasad ini :
“Sifat hasad sesungguhnya akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”
Menurut Imam Al-Ghazali, sifat hasad sesungguhnya bersumber dari rasa dendam. Dan dendam adalah merupakan akibat dari marah. Kedua sifat ini adalah merupakan bara api yang sudah ada dalam diri manusia yang sewaktu-waktu akan terbakar jika sifat hasad ini mulai ada. Dan jika ini sudah benar-benar terjadi dalam diri manusia maka seluruh kebaikan-kebaikan yang ada dalam catatan amalnya akan ikut terbakar hangus sampai yang tersisa hanya tinggal dosa-dosa yang semakin lama semakin menumpuk. Jika hati sudah tidak ada lagi kebaikan di dalamnya hingga yang tertinggal hanyalah kotoran-kotoran hitam akibat dosa, maka hati tersebut lambat laun akan menjadi kelam dan hingga akhirnya akan mati.
Friday, September 7, 2012
Sifat-sifat Jelek Bagaikan Virus Yang Akan Menyerang Kesehatan Hati
Sifat-sifat Jelek Bagaikan Virus Yang Akan Menyerang Kesehatan Hati
Seorang Sufi seharusnya betul-betul menguasai ilmu syariat agama. Makanya sebelum seseorang memasuki dunia Sufi ia harus belajar dan mendalami ilmu-ilmu Agama terlebih dahulu. Hal tersebut adalah merupakan bekal dalam pencarian nya akan hakikat dan rahasia dari semua perintah-perintah Allah yang tertuang dalam syariat Agama. Pengetahuan Sufi terhadap ilmu-ilmu syariat adalah seumpama pisau yang akan digunakan untuk menemukan rahasia apa dibalik syariat agama yang nampak secara formalitas itu.
Setelah seorang sufi di awal perjalanannya telah mengamalkan segala syariat agama dengan berusaha menggali rahasia-rahasia yang tersembunyi di dalamnya, langkah selanjutnya dalam upaya penyucian hati, menurut Al-Ghazali adalah dengan menghilangkan akhlak-akhlak jelek yang ada dalam dirinya lalu menggantinya dengan akhlak yang terpuji.
Bagi Al-Ghazali dan dalam tinjauan ilmu tasawuf secara umum, sifat-sifat jelek adalah seumpama sebuah virus yang akan menyerang kesehatan hati. Sedangkan obat penangkalnya adalah akhlak atau sifat terpuji. Dalam diri manusia sebenarnya dua unsur tersebut sudah melekat pada dirinya. Dengan kata lain,unsur virus penyakit hati itu sudah ada dalam diri manusia tetapi pada sisi lain obat penangkalnya pun sudah tersedia juga dalam dirinya. Mana antara keduanya yang akan berkembang, penyakitnya atau penangkal nya adalah tergantung sejauh mana seorang manusia berupaya untuk kesembuhan nya, atau membiarkan penyakit-penyakit tersebut bersarang hingga sampai pada tahap kronis.
Sakitnya hati memang tak separah penyakit anggota tubuh lain yang nampak secara dhahir. Pada penyakit dhahir (fisik) puncak dari dampak yang ditimbulkannya adalah matinya tubuh atau jasad tetapi dampak akhir dari sakitnya sebuah hati manusia akan mengakibatkan matinya fungsi hati itu sendiri. Padahal hati dalam tubuh manusia adalah pemimpin dari anggota tubuh . Hati adalah pengendali. Ia adalah pemegang kekuasaan tertinggi, satu-satunya penentu dalam putaran roda perilaku manusia. Apa yang akan terjadi pada diri manusia jika hatinya sudah mati?
Satu-satunya penyebab dari kematian hati manusia adalah serangan penyakit-penyakit hati itu sendiri. Banyak macam dan jenis penyakit-penyakit hati yang kesemuanya adalah dalam kategori sifat atau akhlak jahat manusia. Parahnya lagi ternyata penyakit-penyakit tersebut tidak berada di luar tubuh manusia tetapi sudah ada dan bercokol dalam diri manusia. Sisi bahaya yang akan membahayakan kelangsungan hidup manusia. Sisi bahaya yang ditimbulkan dari kematian hati adalah mereka tidak lagi dikuasai dan di komando oleh hati nurani manusianya . Sifat-sifat kemanusiaan nya akan hilang terkubur bersama kematian hatinya. Manusia tidak akan bisa menerima cahaya Zdat Tuhan sebab cermin hatinya telah hangus, sehingga di dalam dirinya tidak sedikitpun terlintas wajah Tuhan. Akibat selanjutnya adalah manusia tidak akan bisa menerima kebenaran, baik yang datang dari langit maupun yang datang dai bumi. Persamaannya sirna dan jiwa kemuliaannya musnah. Dalam diri manusia sudah tidak ada sifat-sifat baik. Yang ada dan tersisa adalah sifat -sifat jahat yang telah dikuasai oleh hawa nafsunya. Manusia-manusia seperti itu akan berada jauh dan sangat jauh dari Allah, bahkan Allah pun membelakangi nya. Jika manusia sudah seperti itu sisi terdekat bagi mereka adalah bukan Tuhan melainkan setan. Wajah-wajah mereka memang berkepala manusia, tetapi jiwanya adalah iblis. Nama-nama mereka memang dalam sebutan manusia, tetapi kelakuan mereka adalah binatang, dan bahkan lebih hina dari hewan. Mereka memang punya hati, tetapi tak ada perasaan kemanusiaan di dalamnya. Juga mereka punya mata, tetapi tak punya penglihatan di dalamnya. Mereka pun punya telinga, tetapi tak ada pendengaran nya sama sekali di dalamnya. Allah menyumpah mereka dengan neraka Jahannam sebagaimana penegasan-Nya sendiri dalam Al-Qur'an :
“ Dan sesungguhnya telah Aku sediakan mereka neraka Jahannam bagi kebanyakan Jin dan Manusia, (karena) mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan nya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka punya mata (tetapi) tidak dipergunakan nya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan nya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al A'raaf:179)
Ada 9 kategori sifat jelek manusia yang oleh Al-Ghazali disebut sebagai penyakit hati, yaitu :
1. makan minum berlebihan
2. berbicara tiada guna
3. marah
4. hasut
5. bakhil
6. hubbu al dunya (cinta harta, pangkat dan kedudukan)
7. sombong
8. ujub
9. riya'
Kesembilan sifat atau laku inilah yang mempunyai tingkat bahaya yang begitu besar dalam mematikan hati manusia. Bagaimanakah proses atau cara kerja penyakit-penyakit tersebut dalam membunuh hati?
Pertama, makan dan minum secara berlebihan, kalau dalam terminologi Al-Qur'an disebut sebagai israf. Banyak ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang melarang tindakan israf ini, bahkan Allah secara tegas menyatakan bahwa Dia sangat tidak suka dengan orang yang berlebih-lebihan (musrifin). Tindakan israf selain mempunyai dampak buruk bagi pelakunya, juga merupakan tindakan yang tidak ada gunanya sama sekali. Dalam kaitannya dengan masalah materi, misalnya israf bisa berupa tindakan penghambur-hamburan yang dalam istilah Al-Qur'an disebut sebagai mubadzir. Sementara dalam keterangan lain disebutkan bahwa para pelaku mubazir adalah sekutunya setan.
Suatu tindakan israf atau mubadzir dalam kaitannya dengan soal makan minum adalah wujud mengkonsumsi makanan secara berlebihan melebihi kapasitas kemampuan atau kewajaran isi perut. Tindakan seperti ini tentu akan membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia baik ditinjau dari segi kesehatan maupun psikologi. Dalam hal ini Al-Ghazali mengatakan:
“Ketahuilah bahwa sumber segala penyakit adalah syahwat perut. Kemudi dari syahwat perut ini muncul syahwat kemaluan. Syahwat perut itulah yang menimpa Adam a.s. Sehingga ia dikeluarkan dari syurga. Syahwat perut pula yang menyebabkan seseorang mencintai dan mencari keduniaan”.
Seorang Sufi seharusnya betul-betul menguasai ilmu syariat agama. Makanya sebelum seseorang memasuki dunia Sufi ia harus belajar dan mendalami ilmu-ilmu Agama terlebih dahulu. Hal tersebut adalah merupakan bekal dalam pencarian nya akan hakikat dan rahasia dari semua perintah-perintah Allah yang tertuang dalam syariat Agama. Pengetahuan Sufi terhadap ilmu-ilmu syariat adalah seumpama pisau yang akan digunakan untuk menemukan rahasia apa dibalik syariat agama yang nampak secara formalitas itu.
Setelah seorang sufi di awal perjalanannya telah mengamalkan segala syariat agama dengan berusaha menggali rahasia-rahasia yang tersembunyi di dalamnya, langkah selanjutnya dalam upaya penyucian hati, menurut Al-Ghazali adalah dengan menghilangkan akhlak-akhlak jelek yang ada dalam dirinya lalu menggantinya dengan akhlak yang terpuji.
Bagi Al-Ghazali dan dalam tinjauan ilmu tasawuf secara umum, sifat-sifat jelek adalah seumpama sebuah virus yang akan menyerang kesehatan hati. Sedangkan obat penangkalnya adalah akhlak atau sifat terpuji. Dalam diri manusia sebenarnya dua unsur tersebut sudah melekat pada dirinya. Dengan kata lain,unsur virus penyakit hati itu sudah ada dalam diri manusia tetapi pada sisi lain obat penangkalnya pun sudah tersedia juga dalam dirinya. Mana antara keduanya yang akan berkembang, penyakitnya atau penangkal nya adalah tergantung sejauh mana seorang manusia berupaya untuk kesembuhan nya, atau membiarkan penyakit-penyakit tersebut bersarang hingga sampai pada tahap kronis.
Sakitnya hati memang tak separah penyakit anggota tubuh lain yang nampak secara dhahir. Pada penyakit dhahir (fisik) puncak dari dampak yang ditimbulkannya adalah matinya tubuh atau jasad tetapi dampak akhir dari sakitnya sebuah hati manusia akan mengakibatkan matinya fungsi hati itu sendiri. Padahal hati dalam tubuh manusia adalah pemimpin dari anggota tubuh . Hati adalah pengendali. Ia adalah pemegang kekuasaan tertinggi, satu-satunya penentu dalam putaran roda perilaku manusia. Apa yang akan terjadi pada diri manusia jika hatinya sudah mati?
Satu-satunya penyebab dari kematian hati manusia adalah serangan penyakit-penyakit hati itu sendiri. Banyak macam dan jenis penyakit-penyakit hati yang kesemuanya adalah dalam kategori sifat atau akhlak jahat manusia. Parahnya lagi ternyata penyakit-penyakit tersebut tidak berada di luar tubuh manusia tetapi sudah ada dan bercokol dalam diri manusia. Sisi bahaya yang akan membahayakan kelangsungan hidup manusia. Sisi bahaya yang ditimbulkan dari kematian hati adalah mereka tidak lagi dikuasai dan di komando oleh hati nurani manusianya . Sifat-sifat kemanusiaan nya akan hilang terkubur bersama kematian hatinya. Manusia tidak akan bisa menerima cahaya Zdat Tuhan sebab cermin hatinya telah hangus, sehingga di dalam dirinya tidak sedikitpun terlintas wajah Tuhan. Akibat selanjutnya adalah manusia tidak akan bisa menerima kebenaran, baik yang datang dari langit maupun yang datang dai bumi. Persamaannya sirna dan jiwa kemuliaannya musnah. Dalam diri manusia sudah tidak ada sifat-sifat baik. Yang ada dan tersisa adalah sifat -sifat jahat yang telah dikuasai oleh hawa nafsunya. Manusia-manusia seperti itu akan berada jauh dan sangat jauh dari Allah, bahkan Allah pun membelakangi nya. Jika manusia sudah seperti itu sisi terdekat bagi mereka adalah bukan Tuhan melainkan setan. Wajah-wajah mereka memang berkepala manusia, tetapi jiwanya adalah iblis. Nama-nama mereka memang dalam sebutan manusia, tetapi kelakuan mereka adalah binatang, dan bahkan lebih hina dari hewan. Mereka memang punya hati, tetapi tak ada perasaan kemanusiaan di dalamnya. Juga mereka punya mata, tetapi tak punya penglihatan di dalamnya. Mereka pun punya telinga, tetapi tak ada pendengaran nya sama sekali di dalamnya. Allah menyumpah mereka dengan neraka Jahannam sebagaimana penegasan-Nya sendiri dalam Al-Qur'an :
“ Dan sesungguhnya telah Aku sediakan mereka neraka Jahannam bagi kebanyakan Jin dan Manusia, (karena) mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan nya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka punya mata (tetapi) tidak dipergunakan nya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan nya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al A'raaf:179)
Ada 9 kategori sifat jelek manusia yang oleh Al-Ghazali disebut sebagai penyakit hati, yaitu :
1. makan minum berlebihan
2. berbicara tiada guna
3. marah
4. hasut
5. bakhil
6. hubbu al dunya (cinta harta, pangkat dan kedudukan)
7. sombong
8. ujub
9. riya'
Kesembilan sifat atau laku inilah yang mempunyai tingkat bahaya yang begitu besar dalam mematikan hati manusia. Bagaimanakah proses atau cara kerja penyakit-penyakit tersebut dalam membunuh hati?
Pertama, makan dan minum secara berlebihan, kalau dalam terminologi Al-Qur'an disebut sebagai israf. Banyak ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang melarang tindakan israf ini, bahkan Allah secara tegas menyatakan bahwa Dia sangat tidak suka dengan orang yang berlebih-lebihan (musrifin). Tindakan israf selain mempunyai dampak buruk bagi pelakunya, juga merupakan tindakan yang tidak ada gunanya sama sekali. Dalam kaitannya dengan masalah materi, misalnya israf bisa berupa tindakan penghambur-hamburan yang dalam istilah Al-Qur'an disebut sebagai mubadzir. Sementara dalam keterangan lain disebutkan bahwa para pelaku mubazir adalah sekutunya setan.
Suatu tindakan israf atau mubadzir dalam kaitannya dengan soal makan minum adalah wujud mengkonsumsi makanan secara berlebihan melebihi kapasitas kemampuan atau kewajaran isi perut. Tindakan seperti ini tentu akan membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia baik ditinjau dari segi kesehatan maupun psikologi. Dalam hal ini Al-Ghazali mengatakan:
“Ketahuilah bahwa sumber segala penyakit adalah syahwat perut. Kemudi dari syahwat perut ini muncul syahwat kemaluan. Syahwat perut itulah yang menimpa Adam a.s. Sehingga ia dikeluarkan dari syurga. Syahwat perut pula yang menyebabkan seseorang mencintai dan mencari keduniaan”.
Thursday, September 6, 2012
Hati Yang Suci Memiliki Kekuatan Untuk Mengenal Allah
Selain mempunyai daya untuk menggerakkan ke arah mana manusia itu berperilaku, hati ternyata juga memiliki suatu power untuk mengenal Allah. Allah sendiri berfirman dalam salah satu hadist kursy sebagai berikut:
Bumi dan langitku tidak dapat memuat-Ku. Tetapi hati hamba-Ku yang berimanlah yang lemah lembut dan tenang yang dapat memuat-Ku.
Ungkapan hadist di atas menunjukkan betapa besar kedudukan pemimpin dalam dunia tubuh, di sisi lain hati adalah wadah untuk bisa mengetahui hal-hal gaib yang itu tidak bisa dicapai oleh bagian-bagian lain dari tubuh manusia. Al-Gazali memberikan suatu perumpamaan bahwa hati itu laksana sebuah cermin. Selama cermin hati itu bersih dari kotoran-kotoran yang diakibatkan oleh dosa, maka hati bisa menerima cahaya Dzat Tuhan. Dengan demikian Tuhan akan senantiasa terbayang dalam cermin hatinya. Di dalam situasi inilah, di mana hati seorang manusia sudah mampu menampung cahaya Dzat Allah, maka ia adalah merupakan cerminan dari serang Sufi sejati.
Penyucian hati (tazkiyatun nafsi) dalam dunia sufi memang merupakan suatu laku yang teremat berat dan membutuhkan waktu yang lama. Upaya ini membutuhkan suatu kesabaran, ketelatenan dan kesungguhan yang luar biasa. Dalam keteranga lebih lanjut Imam Al-Gazali menyebutkan bahwa cara yang harus dilakukan dalam upaya untuk menyucikan diri adalah dengan transformasi akhlak , dari akhlak madzmumah (akhlak tercela) menuju pada akhlak mahmudah (akhlak terpuji). Cara tersebut menghendaki hilangnya penyakit-penyakit hati yang menghalangi realisasi tujuan itu agar dapat hati yang kosong dari segala sesuatu dari yang selain Allah dan mengisinya dengan banyak berdzikir kepada Allah. Dalam karyanya Al Tarbantin fi Ushul al Din, dia ia menerangkan proses transformasi akhlak ini yaitu dimulai dengan melaksanakan amalan-amalan yang bersifat dhahiriah atau yang disebut dengan amalan syariah yang oleh Al-Ghazali diklasifikasikan dalam 10 macam amal, yaitu : shalat, zakat, puasa, haji, qiraatil Al-Qur'an, zdikir kepada Allah di setiap kesempatan, mencari kehidupan yang halal, melaksanakan hak-hak muslim, amar ma'ruf nahi munkar, dan ittiba' (mengikuti) sunnah Rasulullah secara sempurna dan mendalami rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya.
Dari 10 klasifikasi amalan syari'at tersebut, enam di bagian awal adalah dalam kategori dalam ibadah mahdah yaitu se bentuk ibadah ritual yang mempunyai hubungan langsung dengan Allah, sedangkan empat amalan yang terakhir adalah dalam kategori ibadah mu'amalah, yaitu se bentuk ibadah sosial yang bertendensi pada hubungan antar manusia.
Bagi seorang sufi pengalaman syariat agama di samping merupakan suatu kewajiban sebagai individu seorang Muslim yang mukallaf, juga merupakan suatu usaha keras untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Hal ini sangat sesuai dengan ajaran agama Islam itu sendiri, di mana sua syariat agama baik meliputi ibadah ritual maupun ibadah sosial adalah dimaksudkan untuk mensucikan jiwa manusia guna mendekatkan diri kepada Allah. Pengamalan ibadah-ibadah formal sebagaimana ibadah-ibadah di atas sesungguhnya akan mempunyai efek pada kesucian hati yang pada ujungnya akan mendekatkan diri seorang hamba kepada Tuhannya. Jadi dengan demikian, dalam ajaran dunia Sufi sebenarnya tidak ada satu tuntunan untuk meninggalkan syariat agama, sebab dengan meninggalkan syariat agama yang telah ditetapkan oleh Tuhan itu tidak akan menjadikan seseorang dekat dengan Allah, tetapi malah sebaliknya akan menjadikan hatinya semakin najis dipenuhi dengan kotoran-kotoran dosa yang pada ujungnya dia akan berada jauh dan sangat jauh dengan Allah.
Sebagai salah satu upaya dan langkah untuk penyucian hati supaya bisa dekat dengan Tuhan, pengamalan syariat yang ada dalam dunia sufi sebenarnya tidak hanya sekadar pengamalan secara formalitas, Dengan kata lain, pengamalan syariat yang dilakukan oleh seorang sufi tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja, tetapi lebih baik jauh dari itu ibadah yang mereka lakukan adalah dengan penghayatan yang dalam akan rahasia yang terkandung di dalamnya. Kaum sufi sufi sebenarnya belum merasa puas dengan hanya melaksanakan formalitas ibadah, sehingga mereka memberikan porsi yang lebih pada kualitas maupun kuantitas ibadah formal tersebut. Kuantitas ibadah mereka tambah dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an dan amalan sunnah yang lain, sedangkan kualitas ibadah adalah dengan menangkap dan merasakan rahasia yang tersembunyi dalam syariat tersebut.
Untuk menangkap sebuah rahasia yang tersembunyi dalam syariat memang dibutuhkan satu pengetahuan yang luas dan mendalam tentang syariat itu sendiri. Rasanya tak mungkin bagi seseorang yang tak mempunyai ilmu agama yang begitu luas dan mendalam akan mengetahui rahasia-rahasia syariat agama, karena itu menurut pandangan sebagian sufi apabila seorang muslim ingin meningkatkan kualitas pendekatan dirinya kepada Allah maka ia terlebih dulu harus mempelajari hukum fikih yang meliputi bidang ibadah, mu'amalah, pernikahan dan hukum waria sebagaimana sudah dirumuskan oleh para ulama dalam hukum fikih madzab empat. Idealnya seseorang yang akan menjalani kehidupan tasawuf sudah mendalami kajian ilmu fikih empat madzab tersebut, atau sekurang-kurangnya mendalami salah satu madzab fikih yang menjadi pilihannya. Lazimnya para sufi menganut salah sati madzab fikih dari empat madzab fikih yang tersedia, misalnya fikih Imam Syafi'i atau yang lain. Dalam hal ini Imam Malik berkata, “Barangsiapa yang menjalani kehidupan tasawuf tanpa didasari oleh pengamalan hukum fikih, maka ia menjadi kaum Zindiq -menyimpang dari agama yang benar- dan barangsiapa yang hanya melaksanakan hukum fikih -ibadah formal- tanpa dilengkapi oleh pengamalan tasawuf maka ia akan berdosa, dan barangsiapa yang memadukan keduanya secara seimbang, maka ia akan meraih hakikat kebenaran”.
Wednesday, September 5, 2012
Segumpal Darah Yang Menentukan, Itulah Hati
Anggapan keliru jika ada yang menganggap antara dunia dan Tuhan adalah dua hal yang selalu bermusuhan dan tidak bisa disatukan. Hingga seseorang harus memilih salah satu dari keduanya. Jika dunia yang dipilih maka ia akan terlempar jauh dari Tuhan. Sebaliknya jika Tuhan yang dipilih konsekuensi logis nya ia akan terlempar jauh dari dunia. Dan mengenai sikap maupun perilaku mereka yang aneh, menurut mereka itu bukankah sesuatu bentuk keanehan tetapi sebagai bentuk latihan mental (biasanya disebut riyadhah) yang memang harus dilalui untuk menuju kedekatan dengan Nya. Tetapi, apakah memang benar bahwa jalan untuk menuju kepada Allah itu harus dilalui dengan jalan seperti itu?? (lihat posting sebelumnya)
Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita lihat lagi satu kasus yang sama seperti posting sebelumnya tetapi dengan motif yang berbeda. Kisah ini terjadi pada saat zaman Nabi.
Suatu saat ada salah seorang sahabat Nabi yang lewat di sebuah lembah yang bermata air jernih dan segar. Lembah itu sangat mempesona sehingga seorang sahabat itu berfikir untuk mengasingkan diri dari masyarakat dan menghabiskan waktu untuk beribadah dilembah itu. Dalam penafsiran kita mungkin ia akan masuk dalam dunia tasawuf dan ingin menjadi seorang sufi. Sehingga Ia memilih tempat yang sepi yang jauh dari keramaian itu untuk menghindar dari komunitas manusia, dengan niatnya itu lantas sahabat tersebut lantas mengadukannya kepada Rasulullah. Lalu apa jawaban dari Rasulullah mengenai maksudnya tersebut? Rasulullah bersabda :
“Jangan engkau lakukan itu, jangan pula siapa pun diantara kamu, karena kesabaran seseorang di sebagian negeri Islam akan lebih baik daripada seseorang dari kamu selama puluhan tahun ”.
Dalam riwayat yang lain versi jawaban Rasul kepada sahabat tersebut sebagai berikut:
“Jangan engkau lakukan itu, kedudukan engkau di jalan Allah lebih utama dari shalat yang engkau lakukan di rumahmu selama tujuh puluh tahun, tidakkah engkau ingin Allah mengampuni dosamu dan memasukkan kamu ke surga? Maka berjuanglah di jalan Alah”(HR: At Turmuzi).
Ternyata Nabi melarang sahabat tersebut untuk mengasingkan diri walau dengan alasan ibadah. Nabi menganggap salah terhadap orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah dengan pengasingan diri dan meninggalkan kenyataan hidup. Ada jalan yang lebih baik dan lebih utama dari pada mengasingkan diri, yaitu dengan tetap bersabar dalam perjuangan dalam menegakkan Agama Allah di tengah-tengah masyarakat. Inilah jalan yang lebih dekat menuju Allah. Dengan kata lain inilah jalan yang tepat untuk menjadi seorang Sufi.
Ada banyak kasus dengan bermacam motif yang melatarbelakangi seseorang untuk memasuki dunia tasawuf dengan jalan yang salah. Dan kasus serupa pun pasti akan muncul di kemudian hari.
Menurut Ihsanuddin dalam ma'rifat, jalan menuju Tuhan itu tidak ter hingga jumlahnya. Namun dari sekian banyak jalan tersebut mempunyai dasar yang sama, yaitu semua bersifat personal (individuality). Artinya setiap setiap orang harus mencari jalan yang sesuai dengan bakat serta maqam-maqam yang dapat dicapai oleh jiwanya. Jalan yang ditempuh seseorang belum tentu sesuai dan berhasil jika diterapkan kepada orang lain. Karena suasana hati (maqam)nya belum tentu sama antara satu orang dengan orang lain.
Dalam dunia sufi, sebuah jalan yang harus dilalui seseorang untuk sampai kepada Allah lazim disebut tariqah. Tetapi buka jalan sembarangan yang dimaksud di sini, tetapi suatu jalan atau tariqah yang telah disahkan sendiri oleh kalangan Ulama Sufi yang disebut dengan tariqah al mu'tabarah (jalan tariqah yang sah). Di dalam tariqah ini ulama Sufi telah menyusun teori-teori jalan bagaimana seorang Sufi harus mulai melakukan suatu amalan dan mengakhirinya. Jelasnya, dalam tariqah akan diketahui bagaimana start dan finis jalan bagi seorang Sufi. Walaupun ada saja perbedaan pendapat antara kalangan Ulama Sufi dalam masalah teori-teori tasawuf yang harus diterapkan, namun setidaknya akan dapat diketahui apakah jalan yang harus ditempuh seorang sufi itu sesuai dengan beberapa teori yang dibangun oleh kalangan Sufi sendiri. Dan untuk memudahkan pembahasan dan juga untuk keabsahan analisa penulis akan banyak mengambil rujukan dari pemikir seorang tokoh yang sangat kharismatik yaitu imam Al-Ghazali.
Sebagai jalan yang harus ditempuh oleh seorang Sufi tariqah mempunyai sarat utama yang harus dilakukan yaitu penyucian hati dari segala sesuatu yang selain Allah. Imam Al-Ghazali dalam Al Munqidz Min al Dlalal menyatakan hal sebagai berikut :
“Tariqah itu awal, syarat-syaratnya adalah penyucian hati secara keseluruhan dari apa saja selain Allah. Dan kunci pembuka nya laksanakan takbir awal shalat adalah menenggelamkan hati dalam dzikir kepada Allah dan berakhir dengan fana' di dalam Allah”.
Apa yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali dengan penyucian hati adalah baru berupa satu syarat untuk memasuki jalan tariqah. Jadi, penyucian hati harus diupayakan terlebih dahulu sebelum seorang Sufi itu memulai menampakan kakinya di jalan tariqah para Sufi.
Dalam kajian ilmu tasawuf secara umum, penyucian merupakan suatu syarat mutlak dan merupakan harapan utama yang harus diprioritaskan. Hal tersebut dikarenakan hati merupakan hakikat dari inti dari manusia sendiri. Hal terpenting yang ada dalam diri manusia adalah unsur hati, sebab ia adalah unsur komando utama yang akan menggerakkan seluruh aktivitas anggota badan ke arah mana suatu tindakan itu diarahkan. Hati adalah penentu bagi baik atau tidaknya perilaku seorang manusia, sebab hati sesungguhnya mempunyai kekuatan besar untuk itu. Nabi Sendiri dalam salah satu sabdanya menyatakan hal itu sebagai berikut :
“Ingatlah bahwa di dalam diri manusia itu ada segumpal darah. Jika ia baik maka akan baik seluruh anggota tubuh, tetapi jika ia jelek maka akan jelek pulalah seluruh anggota tubuh. Ingatlah bahwa segumpal darah itu adalah hati”.
Subscribe to:
Posts (Atom)




